August 04, 2018

Jadi Kami Itu Gak Enak, Kamu Gak Akan Kuat. Biar Kami Saja.


Sebelumnya, Nanas mau ngasih penjelasan kalau Nanas juga masih belajar. Kalau misalnya di tulisan ini ada kesalahan, tolong bantu koreksi ya. Makasih.

Di rentang usia 12 sampai 22th, pasti kalian punya banyak banget masalah yang kalian hadapi setiap hari. Banyak banget dah, sampe kalau mau dijadiin film atau buku gitu, gak bakal ada abisnya itu masalah. Gak cuma si A atau si B, tapi semua remaja di dunia juga ngerasain itu. Kenapa gitu? Karena fase remaja itu adalah fase yang paling membingungkan. Dibilang anak-anak, mereka udah besar-besar. Dibilang dewasa, mereka masih keliatan kayak anak-anak.

Jangankan orang lain, remaja sendiri banyak yang ngerasa bingung dengan diri mereka sendiri. Mereka masih berada dalam fase 'mencari tahu', dan banyak orang dewasa yang berpikir bahwa mereka 'sudah tahu'. Perbedaan sudut pandang ini yg sering bikin remaja ribut sama orangtuanya.

Contohnya gimana sih Kak? Aku gak ngerti.
Pasti ada nih diantara kalian yang dulunya deket banget sama orangtuanya, tapi pas masuk SMP atau SMA jadi jauh-jauhan, bahkan sering berantem. Terus ada orangtua yang bilang :
"Kamu ini, udah gede masa gak ngerti-ngerti?!"
Sementara kita yang dikatain begitu cuma bisa bertanya-tanya :
"Lah, salahku apa? Kok gitu sih? Emangnya aku kenapa?"
Biasanya kalau udah begini tempat kabur yang paling umum adalah kasur dan bantal. Nangis dah tuh sampe matanya bengep. Padahal masalahnya cuma gegara si anak lupa cuci piring.

Sebenernya di usia segitu, remaja udah mencapai kemampuan berpikir kayak :
  • mulai bisa berpikir logis tentang gagasan abstrak,
  • memiliki kemampuan untuk membuat rencana, strategi, keputusan-keputusan dan memecahkan masalah,
  • mampu menggunakan abstraksi (membedakan yang konkrit dan yang abstrak),
  • muncul kemampuan nalar secara ilmiah (belajar menguji hipotesis),
  • mulai memikirkan masa depan, perencanaan, dan mengeksplorasi alternatif untuk mencapainya,
  • mulai menyadari proses berpikir yang efisien,
  • belajar berinstropkesi, dan
  • memiliki wawasan berpikir yang semakin luas meliputi agama, keadilan, moralitas dan jati diri.
Ini penggambaran secara umum ya, dan semua kemampuan itu diperoleh gak secara alami. Kalian juga harus belajar, berinteraksi dan menyelesaikan tugas-tugas perkembangan remaja kalian untuk mencapai semua kemampuan itu. Masalahnya, banyak orangtua yang memaksakan remaja untuk segera memiliki kemampuan berpikir seperti itu. Bahkan sebagian remaja 'dipaksa' untuk menjadi dewasa lebih cepat dengan segala permasalahan orangtua yang seharusnya belum jadi tanggung jawab remaja (anak) untuk mengerti permasalahan tersebut.

Seperti perbedaan prinsip, perbedaan cara mendidik, perbedaan pendapat, masalah ekonomi sampai perceraian kemudian dipaksakan orangtua sebagai tanggung jawab anak, minimal anak harus ikut mengerti semua masalah tersebut sebagai masalah mereka juga.

Kok yang dibahas keluarga melulu sih? Kan gak semuanya punya masalah keluarga.
Tapi keluarga adalah lingkungan pertama dan terdekat yang kita kenal dalam hidup kita. Jadi apa yang kita pelajari dari keluarga lah yang akan jadi bekal kita bersosialisasi di lingkungan lain. Hm, syukur deh kalau kalian tinggal di lingkungan keluarga yang harmonis. Karena remaja tuh sedang mengalami masa puncak emosionalitas, pasa fase remaja awal, mereka akan menunjukkann sifat sensitif, reaktif yang kuat, emosi yang bersifat negatif, dan tempramental (mudah tersinggung, marah, sedih, murung). Tapi biasanya pasa fase remaja akhir mereka udah mampu mengendalikannya kok.
Ya, berakhirnya fase remaja ini beda-beda ya masing-masing orang. Sekali lagi kita ambil secara umumnya aja.

Nah, kalau mereka tinggal di lingkungan yang kurang kondusif, mereka akan menunjukkan perilaku negatif seperti :
  • agresi : melawan, keras kepala, berkelahi, suka mengganggu, dsb.
  • regresif (lari dari kenyataan) : suka melamun, pendiam, senang menyendiri, mengonsumsi obat penenang, alkohol, narkoba, atau melarikan diri dengan hal lain seperti game dan kehidupan yang bebas.
Dari sini bisa dibayangin gak, bahwa sebenernya tugas remaja itu BANYAK BANGET. Mereka harus sekolah, harus mulai membangun lingkungan sosialnya sendiri, dan harus mulai belajar mandiri secara psikologis. Belum lagi tugas-tugas perkembangan yang harus mereka selesaikan.

Emangnya tugas perkembangan remaja tuh apa aja Kak?
Tugas perkembangan remaja itu, antara lain :
  • mampu menerima keadaan fisiknya,
  • memahami peran seks usia dewasa,
  • mampu membina hubungan yang baik dengan anggota kelompok berlainan jenis,
  • mencapai kemandirian emosional,
  • mencapai kemandirian ekonomi,
  • mengembangkan konsep dan kemampuan intelektual yang diperlukan untuk menjalankan peran sebagai anggota masyarakat,
  • memahami dan menginternalisasikan nilai-nilai orang dewasa dan orangtua,
  • mengembangkan tanggung jawab sosial yang diperlukan untuk memasuki usia dewasa,
  • mempersiapkan diri memasuki masa perkawinan, dan
  • memahami dan mempersiapkan tanggung jawab kehidupan keluarga.
Gimana? Masih mau bilang kalau jadi remaja itu enak? Uwu~

Halah, cuma kayak gitu doang. Aku juga pernah ngelewatin masa itu, biasa aja tuh?
Iya, bagi kamu mungkin begitu. Gimana dengan mereka yang masa remajanya harus terkorbankan dengan masalah keluarga? Menjadi korban bullying? Dijauhi teman-teman? Nilai di sekolah yang jelek? Keterbatasan ekonomi? Kekurangan (maaf) fisik? Rasa percaya diri yang rendah? Ketidakmampuan mereka mengungkapkan perasaan pada orang lain? Ketakutan tidak diterima dalam pergaulan? Menurut kamu apakah mereka bisa melewati semuanya dengan 'biasa aja'?

Ah, lalu gimana dengan mereka yang struggling dengan gangguan psikologis lain seperti anorexia, binge eating disorder, anxiety, stress, depression, self harm, dan kecenderungan suicide?
Banyak data menyebut bahwa sebagian penderita gangguan tersebut adalah remaja. Jadi, gimana?

Jadi remaja tuh gak enak. Sebagian orang ngerasa kalau usia remaja tuh udah bisa bertanggungjawab sama diri mereka sendiri. Padahal mah, sampe masuk usia dewasa mereka juga masih butuh pendampingan secara psikologis, biar gak salah arah dan salah kaprah dalam ngadepin semua problem mereka. Mereka emang bukan lagi anak-anak yang masalah utamanya adalah PR matematika atau pulang kesorean dari main di lapangan, tapi mereka juga bukan orang dewasa yang cukup mampu secara psikologis dalam meregulasi emosi mereka.

Ya, butuh komunikasi dan pengertian yang super duper bikin sakit kepala buat memahami masalah kayak gini, tapi kalau kita gak ngasih mereka pendampingan, ke siapa lagi mereka harus lari? Temennya yang juga masih dalam masa berkembang?

Tapi mereka tuh kayak cari perhatian gitu loh. Gak penting anjir.
Iya, gak penting bagi kita, tapi penting banget bagi mereka. Pernah mikir gak kalau di umur segitu, mereka merekam sangat banyak stressor bahkan mulai dari hal-hal sepele kayak kata-kata "Apa sih kamu gak jelas." Lalu itu bakal kebawa sampe mereka dewasa. Nah, kalau udah begini, siapa yang mau disalahin?

Nanas percaya kalau apapun yang terjadi sama diri seseorang banyak dipengaruhi oleh lingkungan, jadi kalau dia tumbuh jadi anak yang 'tidak jelas', ya berarti lingkungannya yang membentuk dia seperti itu.

Buat kalian adek-adekku yang sedang berjuang dengan kehidupan kalian, jangan menyerah ya. Kalian 'dirancang' Tuhan sebagai mahluk yang kuat, mahluk dengan tugas dan tanggung jawab yang besar, jadi jangan kalah sama masalah. Kalau kalian lelah, jangan lupa cerita ke orang lain.
Jangan menyimpan keluh kesah sendirian. Ingat, superhero juga perlu orang lain buat menang. Jadilah Batman, Wonder Women, Superman, Supergirl atau Thanos (?) buat diri kalian sendiri. Kalian spesial meskipun gak pake kornet atau telur. Karena kalian bukan Indomie.

Kalau kalian ngerasa seluruh dunia gak mengerti kalian, jangan khawatir, kalian bisa lari ke siapapun yang bisa memberikan kalian kenyamanan buat bercerita. Pastikan kalian gak cerita ke temen yang toxic atau malah ngajak mabok ya ketika kalian sedih begitu.

Lalu, buat kalian yang sudah lolos dari masa perjuangan itu, ayo kita dampingi adek-adek kita, agak gak makin banyak lagi anak yang kalian katain 'generasi micin' dan sebagainya. Ayo kita kasih space buat mereka cerita, dan cobalah buat bersikap biasa aja kalau nemu twit atau status di media sosial meskipun kalian ngerasa bahwa itu beneran cringe. Bisa jadi emang itu cara ade-ade kita ngerasa lebih mudah dalam menyampaikan perasaannya. Itu jauh lebih baik daripada mereka yang diem-diem nyimpen masalah sendiri lalu terluka sendirian.

Jadi begitulah... apakah kalian merasa tulisan ini 'aku banget'?

No comments:

Post a Comment