August 04, 2018

Pertama


Namanya Nindi. Dia pernah satu gugus denganku saat masa orientasi siswa baru, dan sekarang kelas kami bersebelahan karena gugus masa orientasi siswa ternyata tidak menjadi kelas resmi kami. Di mataku, dia cantik dan terlihat seperti sedang menyembunyikan diri dibalik kacamatanya.

Nindi duduk di dekat jendela, baris ketiga dari depan. Ia selalu mengekor kuda rambut panjangnya, dan ia terlihat seperti gadis-gadis lain di kelasnya. Rok sekolah sepanjang lutut, jam tangan Baby-G yang ia sesuaikan dengan warna seragam sekolah, dan selalu wangi.
Oh, bukan. Aku tidak semesum itu. Aku pernah berpapasan dengannya saat menuju lapangan upacara, dan aku selalu mencium aroma parfum yang sama ketika bertemu dengannya. Wangi vanilla. Sepanjang tahun, yang kulakukan hanyalah menatapnya dari jauh. Ya, aku setakut itu menyapanya.
Mungkin kalian berpikir aku begini karena Nindi terlalu populer, atau terlalu cantik. Tapi tidak. Masih banyak gadis lain yang kata teman-temanku jauh lebih cantik dari Nindi. Lala, Mita, atau Nia yang mantan model cilik itu masih jauh lebih menarik dimata teman-temanku.
Nindi pendiam. Terlalu pendiam sampai aku tidak bisa memastikan ia akan berkumpul dengan siapa hari ini. Kadang ia akan bersama dengan Anisa si anak rohis, atau kadang ia bersama dengan Nabila yang sering ketahuan clubbing oleh teman-temannya. Pertemanan Nindi serandom itu.
Selama setahun aku memperhatikannya, tak banyak hal yang berubah. Ia masih tertawa seperlunya, bicara seadanya, dan selalu murah senyum. Pernah sekali mataku bertatapan dengannya, dan hanya dengan senyuman kecilnya, badanku membeku. Belakangan, Nindi mulai lebih rajin membaca.
Kukira ia sedang mempersiapkan diri untuk ujian akhir semester, tapi beberapa hari yang lalu aku melihatnya membaca buku psikologi anak. Hm, mungkin ia sedang mempersiapkan diri untuk masa kuliah nanti. Entahlah.
Biasanya aku benci masa-masa kenaikan kelas. Aku benci ketika kami diklasifikasikan berdasarkan nilai-nilai kami. Tapi kali ini, aku sangat bersemangat memulai tahun ajaran baru. Tahun ini aku mulai sekelas dengan Nindi, di XI-IPA A. Ya, ternyata aku seberuntung ini.
Bukan, ternyata aku sial. Wali kelas kami meminta kami duduk berdasarkan nomor absen, dan absenku tepat satu nomor setelah Nindi. Aku panik. Aku bingung bagaimana harus mengendalikan detak jantungku saat bersebelahan dengannya.
Hari pertama masuk sekolah, setelah mengatur tempat duduk dan sebagainya, kami langsung mulai pelajaran pertama. Kimia. Aku suka Kimia, tapi kali ini aku benci karena detak jantungku membuatku tidak bisa berkonsentrasi. Aku diam sambil sesekali melirik tangan Nindi diatas meja.
Bahkan aku hampir tidak menyadari jam pelajaran berakhir dan masuk jam istirahat. Aku terlalu gugup. Aku mengemasi barangku dan bersiap meninggalkan meja saat Nindi memangil.
"Andhimas?"
"Iya Anindi?" mulutku seketika terkatup. Sepertinya wajahku memerah, karena Nindi tertawa.
"Kenapa manggilnya pakai nama lengkap gitu?" tanyanya.
"Ya kamu juga manggil pake nama lengkap..." kataku pelan. Aku mengeluarkan ponselku, menutupi kegugupanku.
"Kan biar beda dari yang lain gitu. Kamu mau?" Nindi menawarkan nasi goreng di kotak bekalnya. Aku melihatnya bingung.
"Gak mau ya?" tanya Nindi tanpa mengubah ekspresi.
"Bu-bukan..." aku gugup lagi. Sial!
"Jangan khawatir, Dimas. Aku udah nyiapin nomor telpon rumah sakit kok." katanya dengan wajah menyebalkan.
"Kali aja kamu keracunan kan..." lanjutnya. Aku menghela nafas, mencoba tidak gemas.
Aku tidak menjawab, dan menyendok nasi goreng di kotak bekalnya. Lumayan, pikirku.
"Kalau besok aku gak masuk sekolah, mungkin emang aku keracunan." kataku. Sepertinya aku mulai terbiasa berbicara dengannya.
"Oh, gitu ya..." dia melihatku kesal, sambil tersenyum. Menggemaskan.
"Tapi kalau besok aku masuk sekolah, bawain satu kotak ya. Satu kotak berdua gak bisa bikin kenyang." kataku sambil beranjak. Aku tersenyum puas saat melewati pintu. Saat itu aku sadar, jatuh cinta bisa jadi semenyenangkan ini.
Lalu kedekatan kami berlanjut begitu saja. Saling mengejek, saling membantu di mata pelajaran tertentu, selalu satu kelompok saat mengerjakan tugas. Mungkin aku tidak secanggung dulu, tapi aku masih sering terhanyut saat mendengar tawa atau melihat senyumnya. Indah sekali.
Satu hal yang menyebalkan dari Nindi adalah dia selalu memaksakan kami menyelesaikan tugas kelompok di satu hari yang sama. Sebelum jam 5 sore, tugas kami harus selesai sehingga kami tidak perlu mengerjakan tugas itu bersama diluar sekolah.
Menyebalkan karena aku dan beberapa teman yang pernah satu kelompok dengan Nindi tidak bisa membantahnya, dan menyebalkan karena di tangan Nindi semua tugas seolah bisa selesai dengan sempurna. Ya, minimal nilai kami tidak pernah mengecewakan.
Ada satu mata pelajaran terbangsat (astaga) di sekolahku. Mata pelajaran pertanian. Kami harus bercocok tanam dan membuat laporan untuk setiap fase pertumbuhan tanaman kami. Sore ini, aku dan Nindi menyusun laporan kedua kami untuk semester ini.
Sepertinya ini laporan terpanjang kami karena sampai hampir jam 6 sore, aku dan Nindi masih sibuk mengerjakan halaman kesekian laporan kami.
"Pulang yuk. Dilanjut besok aja." kataku saat melihat lampu-lampu sekolah mulai dinyalakan, dan kami masih berada di gazebo depan kelas.
"Tapi Dim..." Nindi hampir membantah saat tiba-tiba lampu koridor kami dinyalakan.
"Dek? Gak pulang?" tanya penjaga sekolah saat melihat kami.
"Iya Pak! Ini mau pulang." kataku sambil mengemasi barang-barang kami. Nindi tergugup saat aku menjinjing tasnya.
"Pulang!" tegasku.
Nindi mengikutiku ke parkiran motor dan meraih tasnya.
"Aku nunggu jemputan aj..." ucapan Nindi terpotong suara pot jatuh di ujung lapangan parkir. Nindi meloncat kaget ke arahku, lalu menggenggam lenganku erat.
"Mau nunggu sendirian disini? Gak apa-apa sih..." kataku santai.
"Dimas!" Nindi menatapku kesal.
"Naik buru! Keburu malem." kataku sambil menyalakan motor. Kupikir Nindi akan sedikit kesulitan duduk di boncengan motor sport.
"Bisa gak?" tanyaku.
"Bisa." katanya santai. Sepertinya dia sudah terbiasa dengan motor seperti ini. Aku salah sangka.
"Ngomong-ngomong, ini kita mau ke mana ya Bu?" tanyaku.
"Ha?" Nindi bingung.
"Jangan bilang kamu lupa aku gak pernah tau rumahmu dimana." kataku sambil mengurangi kecepatan.
"Oh... hahaha, iya iya... Jl. Cemara No. 4!" katanya. Aku menggelengkan kepala lalu memacu kecepatan lagi.
Sekitar setengah jam kemudian, motorku berbelok ke halaman rumah Nindi. Saat aku membuka helm dan mematikan mesin, Nindi melihatku bingung.
"Kamu mau mampir?" tanyanya.
"Ya iyalah! Gila apa mulangin anak orang malem-malem terus gak minta maaf? Ayo masuk!" kataku.
Saat Nindi membuka pintu, seorang nenek dan bapak-bapak terkejut melihat kami. Mereka berdiri ketika kami masuk. Raut wajah mereka terlihat khawatir, dan aku merasa tidak enak.
"Satya mana?" tanya Nindi tanpa basa-basi.
"Eh, anu... lagi tidur." kata nenek itu terbata.
Aku mengerutkan kening karena Nindi pergi begitu saja.
"Eh, maaf Om, Nek. Saya Dimas, tadi Nindi sama saya ngerjain tugas dulu, jadi pulangnya agak kemaleman. Kita gak dari mana-mana kok, dari sekolah langsung pulang." aku menjelaskan sesopan mungkin.
Mereka berdua lalu tergagap.
"Eh, iya Nak. Gak apa-apa, saya kira Mbak Nindinya kemana gitu..." kata nenek itu.
"Masuk Mas, masuk. Duduk sini." bapak itu mempersilakan dengan sopan. Mereka beranjak dari kursi ruang tamu yang sebelumnya mereka duduki.
"Aduh Paklik, Nenek, biasa aja dong... kayak sama siapa aja. Ini Dimas, temen sebangku Nindi di sekolah. Tadi kita bikin tugas dulu." kata Nindi yang muncul entah dari mana.
"Eh, anu... Mbak..." bapak-bapak yang dipanggil Paklik oleh Nindi itu sepertinya bingung.
"Kenapa Paklik?" tanya Nindi.
"Eh, enggak... nanti aja kalau gitu." kata Paklik sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Mas, dilanjutin aja ya. Saya ke dalam dulu." kata Nenek mencairkan suasana.
"Dilanjut Mas." kata Paklik sambil mengikuti langkah Nenek.
Nindi duduk di kursi lalu menghela nafas panjang. Ia menatapku yang kebingungan. Dua orang tadi terlalu sopan untuk ukuran seorang nenek dan paman.
"Kenapa Dim?" tanya Nindi.
"Mereka bukan keluarga kamu?" tanyaku. Nindi tersenyum.
"Keliatan ya?" tanyanya sambil tersenyum getir.
"Eh, anu... Nin..." aku menyadari ketololanku.
"Enggak, enggak. Gak apa-apa kok. Mereka cuma kaget karena aku gak pernah bawa temen ke rumah." Nindi menenangkan.
"Bukan gitu..."
"Mereka orang-orang yang dulu kerja sama orangtuaku." lanjutnya. Aku terdiam, menunggu reaksi Nindi.
"Tapi karena satu dan lain hal, aku terpaksa tinggal sama mereka. Mereka baik-baik kok. Jangan ngerasa gak enak." kata Nindi membaca perasaanku.
"Sorry Nin..."
"Jangan minta maaf kalau kamu gak salah. Gak apa-apa, Dimas." katanya. Aku terdiam cukup lama.
"Emangnya orangtua..."
"Dilanjutin besok aja ya Dim. Kayaknya kamu perlu istirahat." kata Nindi memotong. Aku tergagap.
"Oh, iya... oke..." kataku. Aku mengambil tasku dan berjalan keluar rumah.
"Ehm, Nin?" kataku sambil berbalik. Nindi terkejut karena ia tepat di belakangku.
"Eh, hah? Iya?" ia tergagap karena kami hampir bertabrakan. Wajahku sepertinya memerah.
"Besok, jam 6 pagi, aku jemput. Pastiin kamu udah siap. Gak ada komentar." kataku sambil berjalan lagi ke arah motor. Nindi terdiam, ia terlihat sedikit gugup.
"Balik dulu Nin." kataku.
Keesokan paginya, sesuai janjiku, aku menjemput Nindi tepat jam enam. Nindi sedang menggendong seorang bayi laki-laki sambil menyuapinya di depan rumah.
"Nah, itu Om Dimas." kata Nindi sambil melihatku.
"Hah, mana ada om." kataku. Nindi tertawa dan memberikan bayi itu pada Nenek.
"Berangkat sekolah dulu ya!" kata Nindi pada bayi itu. Bayi itu terdiam sambil melambaikan tangan dan mengunyah makanannya.
"Berangkat Nek." kataku berpamitan. Aku sempat mengelus pipi bayi itu, dan ia menyembunyikan wajahnya.
"Malu kayaknya Mas. Hati-hati." pesan Nenek.
Nindi terdiam sepanjang jalan. Kali ini ia membawa helm sendiri.
"Tadi adekmu?" tanyaku.
"Mirip aku ya?" tanya Nindi.
"Iya. Adekmu ya?" ulangku.
"Anakku itu." katanya sambil tertawa. Aku menggelengkan kepala dan berdecak.
"Atau anaknya Paklik?" tanyaku penasaran.
"Bukan lah! Masa iya anaknya Paklik tapi mirip sama aku?" jawan Nindi kesal.
"Terus?" aku masih bertanya. Nindi tidak menjawab, dan ia terdiam sampai kami tiba di sekolah.
Sepulang sekolah, aku mengantar Nindi pulang, sekaligus kami mengerjakan tugas di rumahnya. Laporan mata pelajaran pertanian ini harus segera selesai, kata Nindi. Setelah berganti baju dan membersihkan diri, Nindi menemuiku yang juga sudah mengganti kemeja sekolahku.
Aku tau ini akan menjadu kerja kelompok yang panjang, dan benar saja. Dua jam berlalu, tapi kami masih berhenti di tengah-tengah laporan kami.
"Kamu laper gak?" tanya Nindi.
"Hmm..."
"Makan siang disini ya. Tadi Nenek bikin opor." kata Nindi.
"Gak usah, nanti aja di rumah."
"Dih, jual mahal." kata Nindi. Tiba-tiba seorang bocah lelaki berlari dan memeluk Nindi sambil tertawa. Ah, namanya Satya.
"Hayolo!" Nindi menggodanya, dan dijawab dengan tawa riang oleh Satya. Aku baru sadar Satya tidak sebayi itu saat Nindi memangkunya.
"Umur berapa?" tanyaku.
"Satya umur berapa?" tanya Nindi pada bocah itu.
"Haa... tu!" katanya sambil tersenyum bangga. Aduh, aku gemas.
"Sini sama Mas." kataku sambil mengulurkan tangan. Satya menenggelamkan wajahnya di dada Nindi, dan aku tertawa.
"Sama Mas ya. Mbak mau ke belakang." kata Nindi.
Satya menatapku ragu-ragu, tapi tidak menolak saat aku meraih badannya. Aku mendekapnya seperti yang Nindi lakukan, dan ia menyandarkan kepalanya di dadaku. Nindi melihat Satya sambil tersenyum, lalu ia beranjak menuju dapur.
Aku membelai kepala Satya yang bersandar di dadaku, dan menepuk-nepuk punggungnya lembut. Aku mencium kepalanya, dan tiba-tiba Satya memasukkan jempol kanannya ke mulut. Beberapa saat kemudian Satya terlelap, dan aku terharu. Baru kali ini ada anak kecil tidur di pelukanku.
Saat Nindi kembali sambil membawa dua piring nasi beserta lauk pauknya, ia menatapku dengan tatapan aneh. Aku balas menatapnya sambil menahan tangis. Astaga, aku belum pernah merasa seharu ini.
"Mau diturunin aja Satya nya?" tanya Nindi. Aku bergerak memberikan Satya pada Nindi.
Tapi tiba-tiba Satya melenguh seperti akan menangis.
"Ya udah gak apa-apa. Baru juga tidur." kataku. Nindi mengusap belakang lehernya dengan canggung.
"Ya udah kamu kusupain aja sini." kata Nindi sambil meraih satu piring. Aku terbelalak.
"N-nanti aja... a..."
Ucapanku terhenti karena Nindi sudah menyodorkan nasi ke mulutku. Ia menatapku tajam, seolah tidak menerima penolakan. Aku membuka mulut, dan Nindi mulai menyuapiku.
Aku mengutuki kecanggunganku dan berusaha menghentikan detak jantungku yang ingin melompat dari tempatnya. Aku menghela nafas, dan Nindi melanjutkan suapannya. Aku akan mencatat hari ini sebagai hari bersejarah. Nindi menyuapiku dan adiknya tidur di pelukanku. Gila, pikirku.
Selesai menyuapiku, Nindi meminta Satya dan memindahkannya ke kamar. Aku memegangi kepalaku yang pening dan mengusap wajahku yang masih panas. Aku meraba dadaku dan jantungku masih melompat-lompat. Saat Nindi kembali, aku pura-pura fokus pada laporan kami.
"Makasih Nin..." kataku pelan.
"Makasih apa?" tanyanya sambil mulai makan. Ia terdengar tidak peduli. Sialan, bagaimana dia bisa setenang itu setelah membuatku hampir meledak?
"Gak, lupain." kataku.
"Hmm..." katanya sambil terus makan.
Sekitar jam 6, akhirnya laporan ini selesai. Aku mematikan laptop dan menatap Nindi yang tertidur di sambil duduk di lantai. Tangannya masih memegang pulpen, dan ia meletakkan kepalanya di meja. Aku mengulurkan tangan, dan saat aku hampir menyentuh kepalanya, ia terbangun.
Laptop sialan, umpatku dalam hati.
"Udah Dim?" tanyanya.
"U-udah. Aku balik ya? Udah malem." kataku.
"Hmm, oke..." jawabnya sambil kembali duduk di kursi.
"Aku tidurnya lama ya? Sorry." katanya.
"Enggak, gak apa-apa." jawabku sambil mengemasi barang.
"Dim..."
"Hmm?" jawabku.
"Besok jangan dijemput lagi. Aku dianter aja kayak biasanya." katanya.
"Emang siapa yang mau jemput kamu?" tanyaku. Nindi mengatupkan bibirnya dengan eskpresi kesal.
"Hahaha, iya iya..." kataku yang dibalas dengan tinju pelan di lenganku.
Setelah hari itu, aku mulai sering menyambangi Nindi di rumahnya. Ya, dua minggu sekali sudah kuanggap sering, karena sebelumnya aku jarang pergi ke rumah teman perempuanku. Kadang-kadang aku mendatanginya tanpa permisi, untuk membawakan Satya permen atau cokelat untuk Nindi.
Ya, aku terang-terangan menunjukkan rasa sukaku, tanpa sekalipun ia menolak atau menghentikanku, dan tanpa sekalipun aku berani mengungkapkannya. Aku masih sepengecut itu, sampai kami naik ke kelas XII. Beruntung, aku masih sekelas dengannya dan kami jadi teman sebangku lagi.
Pertengahan bulan September, tiba-tiba Nindi menghilang dan tidak masuk sekolah. Ia tidak menghubungi atau menelponku, dan aku juga tidak bisa menghubunginya. Ini pertama kalinya terjadi karena jika ia tidak masuk sekolah, biasanya ia akan mengabariku. Aneh, batinku.
Aku tidak dapat mengikuti pelajaran dengan tenang hingga jam pulang sekolah. Kepalaku dipenuhi tanda tanya, hingga aku mendatangi rumahnya dan melihat pemandangan yang tidak biasa. Sebuah mobil mewah terparkir di depan rumah Nindi. Aku mengerutkan kening.
Aku masih berdiri di depan pintu saat Nenek, Paklik dan dua orang yang sepertinya suami istri melihat kedatanganku.
"Mas Dimas..." Paklik berdiri dengan gugup.
"Eh, permisi Paklik... Nindi ada?" tanyaku sambil memperhatikan kegelisahan di ruangan itu.
"Eh, anu Mas... begini..." Paklik melihatku dan suami istri itu bergantian.
"Kamu temannya Anindi?" tanya bapak-bapak itu sambil melihatku.
"Eh... iya Om." kataku.
"Pacarnya?" tanyanya. Aku tergagap, wajahnya sedikit menakutkan dimataku.
"Eh, anu... bukan Om." jawabku,
"Sini masuk." ia melambaikan tangan dan menyuruhku duduk. Tiba-tiba suasana menjadi tegang, dan firasatku memburuk. Suami istri itu menyebutkan namanya, Hendi dan Rita.
"Saya ayahnya Nindi, dan ini ibunya." kata Om Hendi sambil memegang tangan istrinya yang terlihat gelisah.
"Kamu Dimas?" tanyanya. Aku terkejut.
"Iya, Anto sering cerita soal kamu." kata Om Hendi menyebut nama Paklik. Aku menunduk, merasa bersalah tanpa alasan.
"Iya Om." kataku.
"Berarti kamu sudah ketemu Satya?" tanyanya tenang. Aku mengangkat kepala sambil mengerutkan kening.
"Sudah Om." kataku.
"Satya itu..." Om Hendi tidak melanjutkan kata-katanya karena istrinya tiba-tiba berdiri dan berjalan ke ruangan lain.
Nenek melihatku dengan tatapan bersalah, lalu mengikuti Tante Rita. Paklik Anto menunduk dalam-dalam. Aku mengerutkan kening, dan penjelasan Om Hendi beberapa saat kemudian membuat duniaku seperti berhenti berputar. Otakku terlalu tegang untuk berpikir.
Setelah mendengar semua hal yang diceritakan Om Hendi, aku bergegas mencari Nindi dan Satya. Hampir satu jam, yang kulakukan hanya berkeliling kota sambil mencari bayangan Nindi, sambil menangis. Ya, aku selemah ini. Cerita Om Hendi membuatku merasa sangat berantakan.
Tiga tahun yang lalu, semua masih hal berjalan dengan baik, kata Om Hendi. Nindi masih tinggal bersama dengan mereka, ia masih jadi anak SMP biasa, seorang anak tunggal pengusaha batubara yang selalu membuat orangtuanya khawatir karena sering pulang malam.
Dengan penampilan yang terhitung berani untuk anak seusia itu, Nindi sering bertengkar dengan ayahnya karena selalu diantar oleh teman lelaki. Akhirnya Om Hendi sering mengirim Paklik Anto membuntuti Nindi, dan kehawatiran Om Hendi benar-benar terbukti tidak terjadi.
Nindi hanya akan menghabiskan waktunya berjam-jam di tempat Angga, teman SD nya, atau berkumpul bersama teman-temannya, sekumpulan anak-anak pengusaha yang juga sering ditinggal orangtuanya bepergian. Sejak saat itu, yang dilakukan Om Hendi hanyalah mempercayai Nindi.
Nindi anak yang ceria, selalu tertawa dan menghibur orangtuanya ketika ia tahu keadaan bisnis orangtuanya sedang tidak terlalu bagus. Om Hendi berkaca-kaca mengenang masa-masa itu. Lalu suara Om Hendi menjadi berat, ketika menceritakan bagian selanjutnya dari kehidupan Nindi.
Salah seorang rekan bisnis Om Hendi menginap di rumah, dan ketika mereka lalai, ia menodai Nindi. Sejak saat itu Nindi ketakutan, ia menolak bertemu dengan orangtuanya, dan menyibukkan diri di sekolah. Ia berpura-pura baik-baik saja di luar, lalu menangis semalaman di rumah.
Sampai akhirnya, Nindi mendengar kabar bahwa orang itu meninggal, beberapa minggu setelah orangtua Nindi tahu bahwa Nindi hamil. Nindi semakin frustasi, ia sangat yakin bahwa orangtuanya yang melakukan semua itu, lalu ia memutuskan meninggalkan rumah.
Nindi pergi ke tempat Nenek yang merupakan mantan pengasuhnya, dan tinggal di sana sampai menyelesaikan sekolahnya. Nenek meyakinkan Nindi untuk melakukannya, agar ia bisa mendapatkan pekerjaan yang pantas untuk membesarkan anak itu. Nenek tahu, Nindi keras kepala.
Orangtua Nindi pun mengalah, ia menjaga jarak dari Nindi karena Nindi pernah mengancam bunuh diri saat orangtuanya datang untuk menjemputnya. Om Hendi mengakhiri ceritanya sambil menangis, dan sekarang aku juga menangis membayangkan masa itu. Dadaku hampir meledak.
Aku menghentikan motorku, dan menangis sejadi-jadinya di pinggir jalan. Ini terlalu berat, pikirku. Bagaimana bisa aku tidak tahu? Bagaimana bisa aku tidak sepeka itu? Bagaimana bisa...
Aku berhenti mengutuki diriku sendiri saat mendengar ponselku bergetar.
Aku menghela nafas, dan buru-buru mengangkatnya saat membaca nama yang tertera di sana.
"Kalau kamu nyari aku, aku di kafe deket sekolah." kata Nindi sambil mengakhiri panggilan. Aku terdiam beberapa detik, dan segera menuju ke tempat yang dimaksud Nindi seperti orang kesetanan.
Saat aku tiba di sana, Nindi duduk di salah satu sudut sambil melihat kedatanganku.
"Udah berapa lama kamu nangis?" tanyanya saat aku duduk di seberangnya. Aku mengusap wajahku.
"Kamu sendiri udah berapa lama nangis?" tanyaku sambil memperhatikan wajahnya yang kuyu. Ia tersenyum.
Satya tidur di sebelahnya sambil mengisap jempol. Nindi mengusap pipinya sekali, lalu menatapku dalam-dalam.
"Udah denger semuanya dari Ayah kan?" tanyanya.
"Nin... mereka gak bermaksud..."
"Aku tau." potong Nindi.
"Aku cuma terlalu malu, dan aku terlalu takut kehilangan..."
Nindi menatap Satya sekali lagi.
"Kamu tau, mereka bahkan gak datang ketika Satya lahir. Mereka ingin, tapi aku gak mau. Mereka cuma bisa ngeliat Satya dari foto yang dikirimin Paklik Anto. Mereka juga cuma bisa ngeliat aku lewat foto. Aku takut. Aku takut ngecewain mereka."
"Aku berhenti sekolah setahun, lalu mereka beliin aku rumah di kota ini. Jauh dari mereka, jauh dari orang-orang yang kenal aku. Mereka ngebiarin aku milih jalanku sendiri, mereka percaya sama aku. Bahkan ketika aku nyalahin mereka tentang si tua bangka itu..." Nindi berhenti.
"Mereka sama sekali gak membantah. Padahal aku tau, mereka gak sejahat itu. Mereka ngebiarin aku nyalahin mereka, ngurangin rasa bersalahku." ia mulai menangis. Aku memegang tangannya yang mengepal menahan amarah.
"Mereka ngirim Paklik Anto dan minta Nenek buat jagain aku."
"Mereka bener-bener jagain aku dari jauh, dengan perasaan bersalah karena udah gagal jagain aku sekali..." Nindi menutup wajahnya dan menangis tersedu-sedu. Aku menggeser dudukku dan membiarkan Nindi menangis di pundakku. Tenggorokanku tercekat, dan aku ikut merasa sesak.
"Jangan gini..." kataku.
"Aku takut..."
"Mereka gak bakal ngambil Satya dari kamu."
"Aku takut mereka bawa aku jauh dari kamu." katanya. Aku menatap Nindi dengan perasaan tidak percaya. Ia menegakkan duduknya, lalu menatapku.
"Atau kamu gak mau aku..."
"Aku mau kamu di sini. Aku juga gak mau jauh dari kamu." potongku.
"Kalau kamu pikir aku bakal berubah setelah aku tau semua ini, kamu salah. Aku masih sama. Aku masih suka kamu, dan aku juga masih mau kamu. Kalaupun kamu harus pergi, yang perlu kulakuin cuma nunggu kan?"
Nindi menatapku sejenak, lalu menunduk. Aku menggenggam tangannya.
"Maaf udah bikin kamu nunggu lama." kataku. Ia menangis tanpa suara.
"Nindi?"
"Hmm?" ia mengangkat wajah.
"Kamu mau nunggu aku lagi? Aku butuh waktu sedikit lebih lama." kataku. Nindi mengerutkan kening, dan pembicaraan kami berhenti di situ, setelah Nindi mengangguk tanpa banyak bertanya.
Dua tahun kemudian, aku membayangkan potongan demi potongan kenangan itu. Di sebelahku, Papa terdiam sambil menatap lurus ke jalan di depannya.
"Kamu beneran yakin, Dim?" tanyanya.
"Aku gak pernah seyakin ini Pa. Papa udah kenal dia, Mama juga udah kenal. Dia baik." kataku.
"Kamu masih muda, Dimas." kata Papa berat.
"Satya gak bisa nunggu buat terus tumbuh, Pa." kataku sambil membelokkan mobil.
"Kalau kamu sudah yakin, dan kamu sudah siap, Mama gak keberatan." kata Mama di kursi belakang. Aku meliriknya melalui kaca.
"Apa ini alasan kamu masuk kepolisian?" tanya Papa sambil melihatku.
"Aku gak mau ada orang yang terluka lagi. Aku mau jaga kalian." kataku sambil melambatkan mobil. Satu kilometer lagi kami sampai di rumah Nindi.
"Jadi, boleh kan Pa?" tanyaku memastikan. Aku menatap pria itu.
"Kalau Papa udah kalah suara begini, Papa bisa apa?" tanya Papa sambil melihatku dan Mama bergantian. Aku tersenyum, dan kulihat Mama menghapus air mata di sudut matanya. Lalu Papa menggelengkan kepala sambil tersenyum.
Aku mengetuk pintu rumah Nindi dengan tangan hampir membeku. Ketika Tante Rita membukakan pintu, sepertinya wajahku memucat, dan Tante Rita terkejut karena aku membawa serta kedua orangtuaku. Kami masuk ke dalam, dan pembicaraan berlangsung begitu saja bersama Om Hendi dan Nindi.
"Jadi begitu Om, tujuan saya datang ke sini bersama kedua orangtua saya. Jika diperbolehkan, saya ingin melamar Nindi." kataku dengan mata memerah. Nindi menunduk, menangis tanpa suara. Om Hendi tidak banyak bicara, ia menyerahkan semuanya pada Nindi. Nindi menatap ayahnya.
"Ayah, aku mau." katanya sambil menangis. Om Hendi memeluk Nindi, dan Tante Rita mengelus punggung Nindi. Aku menunduk, dan Mama menggenggam tanganku. Entah kenapa suasana tiba-tiba berubah jadi haru.
Tiba-tiba Satya keluar dari kamar sambil menangis. Sepertinya ia baru bangun tidur. Aku berdiri dan menggendongnya. Seperti biasa, Satya menyandarkan kepalanya di pundakku dan memelankan tangisannya.
"Kangen sama Om gak?" tanyaku pelan. Satya mengangguk.
Setelah Satya cukup tenang, aku mendudukkannya di kursi. Satya melihatku dengan tatapan penuh tanya.
"Satya, Om mau nanya boleh?" tanyaku. Satya mengangguk.
"Satya suka nggak sama Om?" tanyaku lagi.
"Suka." jawabnya.
"Om boleh gak suka sama Mama?" tanyaku lembut. Satya menatapku.
Ia melihat Nindi, meminta persetujuan. Nindi memberi isyarat Satya boleh menjawab.
"Boleh..." jawabnya pelan.
"Satya..." aku menggenggam tangan bocah empat tahun itu.
"Om suka sama Mama, dan Om juga suka sama kamu. Boleh gak, Om jadi ayahnya Satya?" tanyaku lembut.
"Gak boleh." kata Satya polos. Aku terdiam.
"Kalau jadi Papa boleh. Satya kan udah punya Ayah." ia melihat Om Hendi. Aku langsung menggendong bocah itu dan menciuminya. Kulihat Mama tertawa sambil mengusap air mata, dan Papa menggelengkan kepalanya.
Nindi menutup wajahnya penuh haru, dan orangtuanya tersenyum melihat tingkahku.
Sepertinya begitulah kisah cinta pertamaku berakhir. Aku yang beberapa tahun lalu hanya bisa mengamatinya dari luar jendela, aku yang beberapa tahun lalu merasa jantungku ingin meledak saat mencium aroma parfumnya, aku yang kemudian jadi teman sebangkunya...
sekarang sedang memeluk anaknya, yang menyukai pundak dan dadaku. Sekarang sedang berdiri di depan orangtuanya, dengan perasaan berdebar, karena terang-terangan meminta ijin untuk mengambil anaknya. Aku hampir tidak percaya, karena mereka mengijinkanku begitu saja.
Aku tidak sekuat itu. Aku masih Dimas yg sama, lelaki biasa yg mudah menangis karena hal-hal sederhana. Aku masih Dimas yg sama, lelaki biasa yg jatuh cinta pada wanita luar biasa. Aku masih Dimas yang sama, lelaki biasa yang masih berusaha mencintai wanita itu dengan luar biasa.
x

No comments:

Post a Comment