Ini adalah tulisan lanjutan dari postingan tentang menginap di rumah sakit jiwa. Jadi di rumah sakit jiwa itu, pasien dipisahkan berdasarkan gangguan dan diagnosa yang diberikan, sama kayak di rumah sakit umun. Dibedakan lagi berdasarkan rentang usia dan jenis kelamin, biar gak terjadi hal-hal yang gak diinginkan antara pasien laki-laki dan perempuan. Tapi khusus buat pasien anak-anak dan remaja, mereka disatuin dalam satu bangsal, baik laki-laki dan perempuan.
Emang ada anak dan remaja yang dirawat di RSJ?
Ada. Pasien rehabilitasi narkoba juga dikasih ruang khusus, disatuin laki-laki dan perempuan.
Loh, kok gitu? Kenapa disatuin?
Biar hemat tempat. Jadi pasien anak dan remaja itu jumlahnya kurang dari 20. Kalau mereka dipisah di dua bangsal, takutnya pasien lain gak kebagian tempat. Pasien rehabilitasi malah kurang dari 10 orang, jadi ya, mereka disatuin.
Pasien di RSJ tuh kayak apa sih Kak?
Kayak pasien di rumah sakit umum, tapi mereka ini bisa jalan-jalan. Jadi mereka gak cuma tidur-tiduran di ranjang sepanjang hari. Mereka malah harus gerak, ngobrol dan berinteraksi. Kalau mereka tidur siang-siang, biasanya ditegur.
Penampilannya kayak gimana?
Mereka bersih kok. Mereka yang sudah cukup kooperatif diminta buat bantu jagain yang masih belum kooperatif, bantu mandiin, bantu nyuci pakaian dalam, dan bantu nyuapin makan bagi yang gak bisa mandiri. Ini lumayan membantu buat bekal mereka pulang. Pasien ini mandi dua kali sehari dan ganti baju setiap hari. Jadi ya mereka bersih. Dikasih alat kebersihan kayak sikat gigi dan pembalut bagi perempuan. Mereka juga dikasih kesempatan sholat dan berdoa sesuai agama masing-masing. Intinya, mereka ini sama kayak kita.
Oh iya, mereka dikasih baju kayak daster atau baju dan celana selutut. Biasanya ini dibedain, kalau cewe yang pake daster ini mereka belum terlalu bisa jaga kebersihan. Karena kadang gak bisa ngontrol keinginan ke kamar mandi dan sebagainya, jadi dikasih lah daster. Coraknya sama, dan ada tulisan nama rumah sakit di bajunya. Biar kalau misalnya mereka kabur dari lingkungan rumah sakit, masyarakat sekitar gampang pulanginnya. Itu juga kenapa kita sebagai mahasiswa magang disana gak boleh ngasih mereka baju, perhiasan atau uang.
Waktu pertama kali kita nyampe sana, kita gugup. Takutnya kenapa-kenapa dan pasien nyerang kita. Taunya enggak. Pasien malah antusias sama orang-orang baru kayak kita, dan mereka suka ngajak kita ngobrol. Masalah disana cuma perawat yang jaga sih, malah mereka yang lebih galak dari pasien. Bukan galak sih, mereka tegas biar pasiennya nurut sama mereka. Pasien disini juga diusahain biar gak ngelamun, karena takutnya nanti mereka malah halusinasi dan sebagainya. Tapi tetep aja, kita ikutan takut karena liat beberapa pasien mulai nurut terus ditegur. Hehe...
Gimana Kakak mulai ngobrol sama mereka?
Kita kenalan dulu. Dengan berbekal pengalaman ngajar di play group dan humor yang sangat payah ini, kita kenalan sama mereka.
Takut gak waktu itu?
Takutnya kayak mau interview kerja dan HRD-nya bisa nyakar kalau salah ngomong. Jadi ya, pas awal-awal ngobrol sama mereka, kita kaku banget kayak kanebo kering. Sampe ditegor sama perawatnya karena kita gak terlihat seperti memanusiakan mereka. Ya Allah, gimana ya, namanya juga takut. Kita terlalu sopan, pake bahasa yang formal banget waktu itu.
Berdua sama temenku yang ditugasin di bangsal itu, kita masuk ruang khusus mahasiswa magang. Kita hampir nangis dan panas dingin setelah ditegor. Takut salah lagi. Tapi kalian tau, gak lama setelah itu ada tiga orang pasien yang nyapa kita dari jendela. Masih takut kita bok. Tiga pasien ini semuanya cewe, ibu-ibu tepatnya.
Gimana mereka nyapanya?
"Halo Mbak!" kita masih kicep, tak berkutik.
"Halo..." lemes tuh jawabnya.
"Magang disini ya?" tanya mereka.
"Iya." masih lemes anjir. Ya Allah,
"Kenalan dulu." lalu mereka ngulurin tangan dari jendela.
Nah, dari situ kita mulai tau gimana ngadepin temen-temen baru kita ini. Ngobrol lah kita seada-adanya, kita susulin mereka ke teras bangsal. Gini gambarannya :
Di bangku putih itulah kita ngobrol, kayak :
"Ibu dari mana tadi?"
"Sudah makan belum Bu?"
"Tadi ngapain aja dari pagi?"
Lalu mereka cerita-cerita tentang diri mereka, dan kita dengerin sambil sesekali kita nanya, kayak :
"Ibu anaknya berapa?"
"Yang paling besar umur berapa?"
Pasien ini sangat reaktif sama hal-hal gak terduga, kayak tiba-tiba bilang :
"Mbak, jepit rambutnya bagus."
"Mbak, beli jepit rambutnya dimana?"
"Berapa Mbak beli jepit rambutnya?"
Pas kita sadar pasien ini tertarik sama barang kita, besoknya kita gak pake barang itu lagi.
Tapi besoknya ditanyain dong :
"Jepit rambutnya gak dipake lagi Mbak?"
"Kenapa jepit rambutnya Mbak? Bagus padahal."
Ini cuma satu pasien sih yang begini, yang lainnya :
"Mbak punya hape gak Mbak? Saya mau telpon kakak saya suruh jemput." sambil ngasih sobekan keras yangisinya barisan nomer.
Kita cuma bisa senyum sambil bilang :
"Hape saya rusak, gak bisa ada suaranya."
Sedih anjir liat mereka sedih begitu. Tapi kita harus fokus, kita gak boleh terpengaruh sama kata-kata pasien, sekalipun itu bikin kita miris. Kalau kalian ngira di rumah sakit jiwa itu isinya orang-orang dari kalangan menengah ke bawah, kalian salah. Ada bangsal Kelas I yang meskipun bentuk bangunannya gak beda jauh dari bangsal lain, cuma beda luas dan ukurannya aja, isinya mantan polisi, PNS, pegawai bank sampe pejabat.
Kenapa mereka bisa masuk situ Kak?
Ya macem-macem alasannya. Ada yang karena faktor keturunan, ada yang karena tekanan sosial. Macem-macem. Gejalanya juga macem-macem. Ada yang diem dan ngelamun, gak mau ngapa-ngapain, ada yang hiperaktif sampe gak bisa diem dan lukain orang.
Oh iya, ada satu lagi bangsal khusus, bangsal kriminal. Ini mereka sebenernya harus ngejalanin proses hukum, cuma masalahnya mereka sakit, jadi kudu dirawat. Ada yang pernah bunuh orang, ada yang mencuri, ada yang nyerang orang lain... nah, iya gitu. Pernah denger cerita di bangsal kriminal ini ada cowo yang umurnya sekitar 17 tahun, dan dia sudah pernah bunuh 4 orang. Denger cerita lagi kalau dia ini juga klepto, suka ngambil barang orang. Tau apa yang diambil? Bola mata temennya. Lalu doi ditanyain sama perawat :
"Kenapa kamu ngambil mata temen kamu?"
"Ya soalnya matanya bagus." jawabnya.
Apakah Anda mulai seram, saudara-saudara?
Karena dianggap terlalu berbahaya bagi perawat dan pasien lain, mas ini akhirnya diikat di kursi. Jadi kemana-mana dia harus sambil angkat-angkat kursinya. Pasien dirawat sesuai standar yang berlaku. Misalnya kalau ada pasien yang gelisah, dia mulai jalan-jalan atau ngomongsendiri dan gak mau berhenti meskipun ditegur, pasien bakal diikat di tempat tidur. Diikatnya gak kuat kok, pokoknya membatasi gerak pasien. Dalam kasus tertentu pasien akan dikurung dalam ruangan khusus selama 1x24 jam sampai kegelisahannya berkurang.
Kalau misalnya Nanas salah informasi tolong dikoreksi ya saudara-saudara.
Pernah denger cerita dari bangsal sebelah, tentang sebut saja namanya Ujang dan Ucok. Ujang dan Ucok ini pasien yang masuknya hampir bersamaan, dan menjadi sahabat. Dibilang sahabat karena mereka kemana-mana selalu berdua dan gak mau terpisahkan. Dibilang bukan sahabat mereka ini sering bertengkar. Pernah suatu hari, seorang teman yang magang disitu dilamar oleh Ujang. Ucok lalu marah, dan tiba-tiba nanya ke temen ini :
"Mbak pilih siapa, aku atau Ujang?!"
Reaksi temen? Ketawa, lalu dia bilang belum bisa nikah karena masih kuliah. Besoknya Ucok masuk kamar fiksasi, karena dia tiba-tiba mukul Ujang tanpa alasan. Temen yang kemarin dilamar ini nanya ke Ucok :
"Kenapa kamu mukul Ujang?" Ucok cemberut, lalu bilang :
"Ujang yang mulai duluan." Ujang yang gak jauh dari ruangan itu denger lalu ngebantah.
"Enggak lah! Kamu yang mulai!"
Temenku sakit kepala denger mereka ribut.
"Kamu mau dikeluarin gak?" tanyanya.
"Mau...."
"Nanti mukul lagi gak kalau dikeluarin?"
"Enggak..."
"Kalau udah di luar mau minta maaf ke Ujang gak?"
"Mau..."
Dah, lalu Ucok keluar.Lalu mereka maaf-maafan. Gak deng, peluk-pelukan lebih tepatnya. Udah kayak anak kecil abis ribut sama temennya gitu.
Cerita dari bangsal lain, sekarang ke bangsal anak. Jadi karena mereka semua anak-anak dan remaja, masalahnya sedikit lebih kompleks. Seingetku kebanyakan dari mereka punya gangguan perilaku. Pasien yang diobservasi temenku, cewe, masih 14 atau 15th, aku lupa, dia pernah ngomong sendiri selama lebih dari satu hari dan gak mau tidur, sampe bibirnya bengkak. Fyi, dia ini anak tunggal dan ayahnya TNI, dan dia pasang behel. Bayangin deh sehari semalem nyerocos mulu sampe bibirnya bengkak dan dia gak berasa apa-apa.
Terakhir ketemu sama dia, dia bikin temenku panik karena tiba-tiba dia makan daun. Ya, aku sedih karena pas seumuran dia aku udah bisa ngelirikin kakak kelas main basket di SMP sambil berdegeun-degeun ngeliat dia ngelap keringet...
Di bangsal cowo, mereka boleh ngerokok dan kantin rumah sakit juga nyediain rokok khusus buat pasien.
Kok boleh?
Beberapa dari yang ngerokok ini berkurang tingkat agresivitasnya setelah mereka ngerokok. Jadi ya, daripada mereka gelisah, dikasih lah rokok khusus. Seorang senior pernah cerita bahwa di rumah sakit itu ada perawat yang cantik banget, sebut aja namanya Mbak Sasa. Nah, seniorku yang kocak ini ngerokok sambil ngeliatin Mbak Sasa sibuk ngurusin pasien, duduk lah dia di depan bangsal sambil menikmati pemandangan. Tiba-tiba ada seorang pasien cowo nyamperin dia, dan nanya :
"Ngapain Mas?" masih awal magang kayaknya, dia gelagapan.
"Ngerokok Mas." katanya. Pasien itu senyum-senyum.
"Ngeliatin Mbak Sasa ya?" tanyanya.
"Cantik ya Mas?" katanya lagi. Seniorku berkata dalam hati :
"Hancoookk, ngerti ae wong wedok ayu."
Tapi karena gak mungkin dia ngomong gitu ke pasien, jadilah dia senyum awkward ke pasien itu. Lalu besok-besoknya mereka berdua jadi partner ngeliatin Mbak Sasa sambil ngerokok berdua di depan bangsal. Mayan, ada temen liat pemandangan, katanya.
Pasien yang udah cukup kooperatif kemudian dibimbing biar bisa produktif. Mereka diajarin bikin berbagai kerajinan tangan. Karena kita sambil observasi pasien, kita bisa nemenin pasien kemana-mana, termasuk kalau pasien ikut dalam kegiatan rekreasi. Di ruang rekreasi ini pasien dikasih pilihan, mereka boleh nyanyi diiringi musik atau menari bareng-bareng. Sebagian dari mereka ternyata banyak yang jago nyanyi. Salah satu pasien gak mau disuruh nyanyi, jadi dia nari jaipong sambil diiringi lagu Ebiet G. Ade.
Liat temen-temennya tampil, berebutlah sebagian dari mereka, antri buat nyanyi diiringi organ tunggal. Sisanya diajak joget dan tepuk tangan. Ada aja pasien yang kayaknya mager, jadi mereka gak mau ngapa-ngapain disitu. Cuma duduk-duduk sambil liat temennya pada heboh.
Diantara pasien yang heboh itu, ada seorang pasien cowo yang ngehampirin aku sambil sempoyongan. Aku lagi bersandar di tembok dan dia tiba-tiba bersandar di sebelahku dengan tatapan curiga. Karena agak kaget, aku ngeliatin dan nanya :
"Kamu yang bunuh saya ya?" katanya.
"Kamu kenapa jalannya begitu?" takutnya dia lagi gelisah.
"Kamu yang bunuh saya ya?" ulangnya.
"Enggak kok. Kan dari tadi saya di sini. Salah orang kali kamu." kataku.
"Jadi kamu gak bunuh saya?" masih kekeuh dia nanya.
"Enggak." jawabku.
"Oh, yaudah." katanya sambil jalan nyamperin temenku yang lain.
Jalannya normal, gak sempoyongan. Aih, ini orang...
Dia nyamperin temenku, dia liat name tag dan asal kampus kita.
"Kamu mahasiswa xxx ya?" tanyanya.
"Iya, kok kamu tau?" kata temenku.
"Itu kebaca nama kampusnya." katanya sambil nunjuk logo di almamater.
"Oh iya." temenku senyum.
"Saya dari UGM. UGM." katanya.
"Oh, UGM." temenku masih ngerespon.
"Nama panggilan kamu siapa?" tanyanya lagi.
"Lestari." kata temenku.
"Aku manggil kamu Esta aja ya." katanya. Temenku senyum-senyum.
"Iya, boleh." katanya.
"Aku mau nyanyi buat kamu boleh?" masih ngegombal dong si anak cupang.
"Boleh." kata temenku.
"Tunggu ya." katanya sambil lari ke antrian pasien yang mau nyanyi.
Sambil nunggu giliran pasien tadi nyanyi, temenku bilang, "Seumur-umur aku gak kepikiran kalau ada nama Esta di namaku." katanya sambil terkagum-kagum dengan kecerdasan pasien tadi.Tau, akhirnya doi nyanyi lagu apa? Semua Tentang Kita-nya Peterpan. Kirain bakal nyanyi lagu romantis. Sepertinya aku terlalu banyak berharap.
Ternyata ada kisah soal Mas Peterpan ini. Jadi dulu dia beneran mahasiswa UGM, terus dia gak sengaja lihat temennya dibunuh di depan matanya. Dia shock, dan jadilah dia kayak gitu. Ya, emang ketahanan psikologis orang tuh beda-beda, apapun latar belakangnya.
Bentar dulu, gue baru kepikiran sekarang. Kenapa dia inget bagian pembunuhan itu pas liat gue? Kenapa dia nyanyiin lagu sedih gitu buat temen gue? Apa muka gue kayak muka pembunuhnya dan muka temen gue mirip sama mantannya? Wtf, bgsd juga ya nih orang. Hah...
Satu minggu berlalu, lalu kita ada acara peringatan Hari Skizofrenia di akhir pekan. Ketemu lagi lah kita sama pasien-pasien unik dan menarik ini. Ada mantan pasien yang sudah dianggap sangat kooperatif lalu dijadikan bintang tamu di acara itu. Sebut aja namanya Mas Ridwan. Ganteng, tinggi, putih, berusia sekitar 26th, dan punya usaha foto dan videografi acara seperti pernikahan. Jasanya udah dipake sama banyak orang dan hasilnya bagus. Kalau gak ngobrol lama sama dia, kalian gak akan nyangka kalau dia penderita skizofrenia.
Diantara pasien perawat dan tamu ini, ada seorang mba-mba cantik, waktu itu dia di situ pake celana jeans hitam dan kaos warna merah. Rambutnya agak merah dan keliatan pernah dilurusin di salon. Awalnya kukira dia tamu atau perawat di sini, tapi ternyata aku salah. Dia adalah pasien di bangsal rehabilitasi narkoba. Lalu kita ngobrol, dan dia cerita tentang gimana dia masuk ke sini. Dia pernah pake sabu-sabu, putaw dan inex. Dia udah nyoba narkoba dari jaman dia SMA sampe dia nikah. Karena suaminya juga brengsek, jadilah mereka sering ngobat berdua.
Savage sekali Mbak ini, pikirku.
Lalu dia selingkuh, dan selingkuhannya malah ngenalin dia sama inex, yang katanya, pengaruhnya paling yahud diantara semua jenis narkoba lainnya. Lalu petualangan mereka terhenti karena selingkuhannya ditangkep polisi, dan dia masuk tempat rehabilitasi. Waktu itu mbaknya lagi nunggu dijemput sama suaminya karena masa pengobatannya sudah berakhir.
Setelah selesai, kita kan harus nyusun laporan dan sebagainya buat disidangin di rumah sakit. Ya, kita ngebut itu di hari-hari terakhir kita magang. Rumah sakit ngasih kita satu pembimbing lapangan, satu pembimbing pegang dua mahasiswa. Inget banget waktu kita lagi mau bimbingan di salah satu poli, pembimbing kita ngeliat kita kayak kasihan gitu. Beliau bilang :
"Jangan stres-stres Mbak. Gak apa-apa kok. Jangan sampe nanti kamu kayak mahasiswa bimbingan saya dulu. Tahun ini magang disini, beberapa tahun kemudian balik kesini sebagai pasien." candanya. Kita malah makin pusing dengernya.
Sebelum sidang, kita pamitan dulu ke temen-temen kita di bangsal sambil ngasih kenang-kenangan kayak gelang sama anting plastik yang akhirnya disita sama perawat di situ. Kita ingetin mereka buat tetep minum obat sekalipun udah keluar dari rumah sakit dan janji buat gak sakit lagi. Mereka kayak sedih denger kita pamitan. Entah udah berapa kali mereka nanya begini :
"Saya kapan dijemput Mbak?"
"Saya kapan boleh pulang Mbak?"
"Suami saya belum bilang kapan saya dijemput?"
"Kakak saya bisa ditelpon gak Mbak?"
Karena kita gak bisa ngasih harapan palsu, satu-satunya yang bisa kita sampaikan adalah mereka harus rajin minum obat dan nurut sama perawat. Mereka akan dipulangin kalau udah sembuh. Ada juga pasien yang ngeyel :
"Saya ini sudah sembuh loh Mbak!" tapi tetep aja kita gak bisapercaya apa kata pasien. Biar bagaimanapun mereka ini orang dengan gangguan kejiwaan.
Pernah ada seorang senior yang ditegur sama pembimbing lapangannya karena ikut-ikutan ngeyel ke pembimbingnya, bilang kalau pasiennya ini udah sembuh. Pembimbingnya sampe sakit kepala.
"Astaghfirullah Jarwo. Mereka ini sakit. Jiwanya sakit. Kamu kok masih ngeyel kalau dia udah sembuh sih? Kalau dia udah sembuh, pasti kita pulangin. Kamu ini udah ketularan dia apa gimana sih?!" gitu kata pembimbingnya (Jarwo bukan nama sebenarnya).
Temen-temen Mas Jarwo cuma bisa nahan napas sambil berusaha gak ketawa denger pembimbingnya bilang gitu.
Gak ada hikmah dari tulisan ini selain kalian harus tau bahwa pasien RSJ itu gak semengerikan yang kalian kira. Jadi kurang-kurangin tuh berpikiran negatif sama orang-orang kayak mereka. Lagi, jangan jadiin kata 'gila' atau RSJ sebagai bahan candaan. Belajarlah dari pasien yang diem-diem pinter nari jaipong, Mas Peterpan yang jago gombalin cewe, pasien penggemar Mbak Sasa, Ucok dan Ujang. Level percaya diri mereka sudah diatas rata-rata. Kamu gimana?
No comments:
Post a Comment