August 04, 2018

Tersesat


Aku merasa tersadar dari tidur yang amat panjang. Saat aku membuka mata, aku tidak melihat apapun di sekelilingku selain kegelapan. Aku mencoba berdiri, tapi seluruh badanku kini lumpuh. Aku kini mencoba mendengarkan. Aku mendengar suara-suara itu, sayup-sayup.
Terdengar jauh, tapi aku tau, mereka ada di sekelilingku.
“Wanita murahan!” kata sebuah suara.
“Pelacur!” sahut yang lain.
“Berapa banyak pria yang sudah ia rayu?” yg lain berucap jijik.
Aku menghela nafas panjang. Berat, dan tak menghilangkan sesak yang tiba-tiba kurasakan.
Aku memejamkan mata kuat-kuat, berharap aku tertidur lagi, dan tidak akan pernah terbangun. Saat aku nyaris kehilangan kesadaranku, sebuah tangan mungil meraba jari-jariku. Ia menggenggamku erat. Aku membuka mata, dan aku masih melihat kegelapan.
Tapi kini aku bisa melihat tangan itu, bahkan aku bisa menyentuhnya. Ia tertawa melihatku terbangun. Suara khas bayi yang riang. Aku memperhatikannya dengan seksama. Ia mirip denganku. Sangat.
Hidungnya yang tidak terlalu mancung, matanya yang lebar, dan rambutnya yang hitam. Ia sangat mirip denganku sewaktu kecil. Aku berusaha mengingat-ingat, siapa aku, dimana aku, siapa anak ini, dan bagaimana kami bisa berada di tempat yang sangat gelap ini. Tapi aku tidak bisa.
Aku menggendongnya, memeluknya, dan membiarkannya bermanja padaku.
Entah berapa lama kami disini. Tapi bayi itu mulai kelaparan. Ia menangis keras meminta susu, dan aku kebingungan. Aku sendiri tidak makan dalam waktu yang kurasa cukup lama. Tapi aku tidak lapar.
Aku berusaha berjalan kesana kemari, mencari sesuatu yang bisa bayi itu makan. Tapi aku tidak menemukan apapun selain suara-suara sumbang yang kian lama kian keras menusuk telingaku. Mereka masih mengatakan kata-kata yang sama.
Pelacur, wanita jalang, dan umpatan-umpatan lainnya.
Aku tidak peduli. Yang aku tahu, bayi itu butuh makan dan aku tidak tau aku harus melakukan apa. Aku tiba-tiba tersadar. Aku seorang wanita. Bisakah aku memberi bayi itu ASI? Aku menggigit bibir, mendekati bayi yang masih menangis itu.
Aku mencoba menyodorkan putingku padanya, dan ia menerimanya. Bayi itu berhenti menangis, dan entah mengapa aku merasa sangat bahagia. Ia terus minum hingga ia tertidur. Lalu aku menidurkannya di sebelahku, dan aku memeluknya sambil ikut memejamkan mata.
Dalam mimpiku, aku ingat tentang sesosok pria yang kurasa sangat kucintai. Aku selalu tertawa saat bersamanya, dan aku bahagia saat ia menggenggam tanganku. Aku merasa duniaku sangat sempurna saat bersamanya.
Lalu, saat ulang tahunku yang ke tujuh belas, ia memintaku datang ke rumahnya. Orangtuanya sedang pergi ke luar kota, dan ia mempersiapkan pesta ulang tahun yang sangat meriah untukku. Ia mengundang semua teman-temannya, dan kami berpesta hingga dini hari.
Pria yang sangat kucintai itu memaksaku minum alkohol cukup banyak. Katanya, aku akan resmi menjadi dewasa saat aku minum minuman keras seperti itu. Entahlah, mungkin karena aku terlalu mencintainya, aku menurut.
Kami minum-minum hingga aku tak sadarkan diri. Aku mengutuki diriku sendiri. Kenapa aku selalu tak sadarkan diri? Kenapa aku selalu tertidur, bahkan saat mengingat hal penting seperti ini.
Saat aku sadar, bayi itu mulai merangkak, tidak lagi berguling-guling seperti saat kami belum tertidur. Ia nampak mulai terbiasa mencari sendiri dimana letak putingku, dan mengisapnya saat ia merasa kelaparan.
Aku menggendongnya, membelainya dan menciumi rambut hitamnya yang lebat. Aku mulai menyayangi bayi ini. Tapi aku bertanya-tanya, apakah orangtua bayi ini tidak mencarinya? Bagaimana bisa bayi ini berada di sini sendirian, bersamaku, yang adalah orang asing?
Bagaimana bisa mereka meninggalkan ia begitu saja? Aku ingin marah, dan ingin kugaruk saja wajah orangtuanya apabila kami bertemu, dan ternyata memang mereka meninggalkan bayi ini dengan sengaja.
Ah, aku baru sadar, bayi ini tidak memakai baju. Sementara aku hanya mengenakan seragam sekolah menengah atas dan rok abu-abunya. Bayi itu memelukku erat. Kurasa ia kedinginan. Aku melepaskan kemejaku, dan kukenakan padanya.
“Kamu pakai ini dulu, nanti kita cari baju biar kamu nggak kedinginan.” kataku sambil merapikan kemejaku yang kini membalut tubuh bayi itu. Bayi itu rasanya mengerti apa yang kukatakan. Ia memelukku erat, seolah-olah aku ini ibunya.
Amarahku kembali meledak. Kusumpahi orangtua bayi ini, yang membiarkannya terlantar begitu saja.
Aku mulai bosan berada di tempat gelap ini. Aku lalu memutuskan untuk berjalan dan menemukan cara agar bisa keluar dari tempat ini. Aku berjalan sambil meraba-raba, aku takut aku tidak melihat dinding, menabraknya dan melukai bayi yang kugendong ini.
Kami berjalan cukup jauh, berjam-jam, berhari-hari, hingga aku kelelahan. Aku lalu merasa kedinginan. Aku melihat tubuh atasku yang hanya tertutup oleh pakaian dalam, dan kemejaku yang membalut bayi itu. Aku ingin memakai kembali kemejaku, tapi aku takut bayi ini kedinginan.
Aku melihat tubuh atasku yang hanya tertutup oleh pakaian dalam, dan kemejaku yang membalut bayi itu. Aku ingin memakai kembali kemejaku, tapi aku takut bayi ini kedinginan. Aku mengabaikan rasa dinginku, dan kembali berjalan.
Belum lama aku berjalan, aku merasa kakiku menendang sesuatu.
Aku menendang setumpuk kain lusuh, yang mulai berlubang disana-sini. Aku bersyukur, setidaknya aku punya selembar kain yang bisa kugunakan untuk mengusir dingin. Aku ingin kembali berjalan, tapi aku sudah terlalu lelah.
Sepatu lusuhku juga mulai menipis karena aku terlalu lama berjalan. Aku lalu menidurkan bayi itu, memberinya ASI, lalu memeluknya hingga kami terlelap.
Lagi-lagi dalam tidurku, aku memimpikan pria itu. Ia membawaku ke kamarnya saat aku tak sadarkan diri. Lalu ia meniduriku. Ia mempermainkanku sambil tertawa lepas, seolah-olah ia telah memenangkan hadiah utama dalam undian yang sering diadakan oleh banyak bank di negeri ini.
Ia mempermainkanku hingga ia lelah, dan ia tertidur.
Saat aku terbangun, aku merasa seluruh tubuhku seperti tercabik-cabik. Sakit. Aku melihat pria itu di sebelahku, dan aku menangis. Aku mencintainya, tapi aku tidak pernah menyangka bahwa ia akan melakukan hal sekeji ini padaku.
Ia terbangun karena tangisanku, dan ia menenangkanku. Ia berkata bahwa ia akan bertanggung jawab apabila hal buruk terjadi padaku. Mendengar ia mengucapkan itu, aku merasa sedikit lega. Aku tidak akan menghadapi masalah sendirian.
Tapi ia mengingkari janjinya. Sejak hari itu ia tidak lagi menghubungiku. Ia bahkan tidak bisa kutemui di sekolah. Ia juga tidak mau kutemui di rumah. Pembantunya bilang, ia sedang sibuk dan tidak ingin diganggu. Karena aku sering mendatangi rumahnya, orangtuanya pun geram.
Mereka berkata bahwa aku perempuan penggoda, dan menyuruhku untuk tidak menemuinya lagi. Aku hancur. Apalagi sekarang aku sudah terlambat datang bulan.
Aku terus mencoba mencari pria yang kucintai itu, tapi ia selalu berhasil menghindar. Hingga pada suatu malam, aku melihat ia menulis sebuah postingan di akun jejaring sosialnya bahwa ia sedang berada di salah satu tempat hiburan malam. Aku menghampirinya.
Aku menyiramkan air tepat di wajahnya, dan memintanya menikahiku di hadapan semua pengunjung tempat itu. Ia marah. Ia memakiku dan meludahiku. Ia berkata aku hanya pelacur yang bisa menyerahkan tubuhku pada semua laki-laki yang menginginkannya.
Aku menangis keras. Aku tidak menyangka bahwa ia akan mengatakan itu. Aku berlari keluar dan menangis di tempat parkir. Aku akan berakhir sendirian, kataku dalam hati. Tapi pria itu, bajingan itu menghampiriku.
Ia melemparkan setumpuk uang padaku, dan menyuruhku menggugurkan kandunganku. Ia melihatku dengan sinis dan berkata,
“Pelacur dimana-mana sama. Cari muka doang.” Aku berdiri dan meraup uang yang ia lemparkan. Kusumpalkan uang itu di mulutnya.
Aku tidak ingin banyak bicara, dan aku langsung meninggalkannya.
Aku terbangun dari mimpiku karena bayi ini mulai menangis lagi. Aku memeluknya, menenangkannya dan memberinya ASI lagi. Saat ia mulai tenang, aku mendengar banyak suara mulai terdengar lagi dari tempat itu.
“Wanita jalang itu kembali lagi?”
“Hah, paling dia butuh uang.”
“Dasar murahan! Pelacur!”
Gigiku gemeretak mendengar makian itu. Sekarang aku sadar bahwa semua makian yang selama ini kudengar ditujukan untukku. Tapi aku menahan diri. Aku menutupi telinga bayi itu, agar tidak mendengar ocehan suara-suara tidak tahu diri itu.
Aku lalu melilitkan kain lusuh yang tadi kutemukan di jalan, dan kembali berjalan. Sekarang tempat ini tidak segelap sebelumnya. Aku bisa melihat banyak kerikil dan batu tajam di sepanjang jalan.
Aku lebih berhati-hati saat melangkah, agar tidak tersandung dan menjatuhkan bayi yang sedang kugendong ini.
Aku merasa bayi itu menjadi lebih berat sekarang. Ah, ia juga menjadi lebih tinggi. Aku bersorak dalam hati. Ia telah menjadi lebih besar. Entah kenapa, aku bahagia melihatnya tumbuh seperti ini. Aku memeluknya, dan menciuminya sambil terus berjalan.
Sekarang aku bisa melihat ada banyak mata yang mengintip dari luar tempat itu. Mereka mengamati setiap langkahku dan saling mencibir. Aku menarik nafas panjang.
Aku harus lebih dulu menemukan cara agar bisa keluar dari tempat ini dan menemukan sesuatu yang pantas untuk bayi ini sebelum meladeni ocehan tidak penting mereka.
Aku masih berjalan ke depan, aku sesekali menolah ke belakang dan menyadari betapa gelapnya tempat itu. Aku juga kadang-kadang membetulkan kain yang kulilit di badanku. Aku berjalan, hingga lagi-lagi aku kelelahan.
Aku mengumpat dalam hati, kesal karena tempat ini seakan tidak berujung. Aku menidurkan bayi itu setelah sebelumnya memunguti kerikil-kerikil yang bisa jadi akan melukainya nanti. Aku merebahkan diri di tanah, seperti yang selalu kulakukan bersama bayi itu sebelumnya.
Aku memeluk bayi itu dan memastikannya tidak kedinginan.
Dalam tidurku, aku bermimpi lagi. Tapi bukan tentang pria bajingan itu. Ini tentang orangtuaku. Mereka sangat marah ketika tahu aku hamil. Mereka menyumpahiku dan mengatakan aku anak binatang. Aku menunduk dan mendengarkan setiap umpatan ayahku.
Ibuku hanya menangis kecewa padaku. Ketiga saudaraku yang lain juga sangat marah, tapi mereka tidak berbuat apa-apa selain menatapku sinis.
Aku membiarkan mereka memaki, mengumpat, dan melemparkan barang-barang padaku. Aku hanya terdiam. Lalu, saat mereka sudah mulai lelah memarahiku, aku mengangkat kepala.
“Kalian boleh marah. Aku memang bersalah. Aku akan pergi jika kalian memintaku pergi. Anak ini tidak tahu apa-apa, dan aku tidak akan membunuhnya.” kataku tenang. Ya, aku memutuskan untuk membesarkan anak ini.
Kata-kataku sepertinya membuat keluargaku membeku. Mereka tidak menjawab, dan raut wajah mereka mulai mengendur. Aku mengemasi pakaianku, dan bersiap meninggalkan rumah. Ibu menangis lagi, kali ini ia menahanku agar tidak pergi.
Kedua kakakku dan adikku juga nampak tidak rela jika aku pergi. Hanya ayahku yang menatapku dingin.
“Aku pergi jika kalian menyuruhku pergi, atau menyuruhku membuang anak ini. Anak ini darah dagingku, dan aku tidak ingin kehilangan dia.” kataku sambil menatap ayahku.
Pria berkumis yang sering menggendongku saat aku kecil itu menatapku dalam-dalam, berdiri menghampiriku, dan meraih tasku.
“Kamu anak Ayah. Anak kamu berarti cucu Ayah. Jangan kemana-mana. Kita rawat anak itu sama-sama.” kata ayahku sambil memasukkan tasku kembali ke dalam kamar. Ibu menangis histeris. Kedua kakakku lalu memelukku dan adikku menenangkan ibuku.
Aku merasa lukaku sedikit terobati, dan tanpa sadar aku meraba perutku yang sedikit membuncit.
Aku terbangun dari tidurku ketika bayi yang kupeluk itu menggeliat. Ia memainkan rambutku yang sudah lama tidak kusisir. Aku tersenyum saat ia tertawa menatapku. Ia nampak sangat riang, seperti biasanya.
Sekarang ia sudah bisa berceloteh dan bernyanyi-nyanyi seperti yang sering kuajarkan selama kami berjalan. Aku berdiri, merapikan kain yang melilit tubuhku, merapikan kemeja yang masih menempel di tubuh bayi itu, dan kembali berjalan.
Nampaknya ia sudah cukup besar untuk kuajari berjalan. Aku menyingkirkan batu-batu yang bisa melukai kakinya, dan membantunya menapak di tanah. Ah, dia sangat cepat belajar. Sebentar saja, ia sudah bisa berdiri beberapa saat sebelum kemudian jatuh terduduk.
Ia sangat bersemangat, aku sampai kewalahan mengikuti langkahnya.
Aku khawatir ia akan terluka, karena ia tidak memakai alas kaki. Aku melepas kain yang melilit tubuhku dan merobeknya, lalu melilitkannya di kaki bayi itu. Ia menyukainya. Ia menolak kugendong dan terus berjalan sambil kutuntun menyusuri tempat ini.
Aku tertawa. Aku bahagia melihatnya begitu ceria seperti sekarang.
Sekarang tempat ini benar-benar terang. Aku melihat banyak orang berlalu lalang sambil melihat kami jijik. Seorang wanita setengah telanjang yang sedang menuntun bayi berkemeja putih yang jelas sangat kebesaran. Aku tidak peduli.
Bahkan aku tidak lagi mendengar bisikan-bisikan sinis itu. Meskipun mereka berteriak di telingaku, aku menulikan pendengaranku. Aku masih terus berfokus pada bayi yang sedang menggengam tanganku erat-erat ini. Ia sesekali melihatku sambil terseyum riang.
Oh, ia sudah memiliki satu gigi susu sekarang.
Aku menggendongnya dengan penuh semangat dan menciuminya. Aku ingin tau, kemana jalan ini akan berakhir. Aku mempercepat langkahku, menghindari orang-orang yang mengumpatiku dan mengatakan aku wanita jalang. Aku tidak ingin bayi ini mendengar makian-makian seperti itu.
Aku berjalan cukup lama, hingga aku merasakan gelap menyelimuti kami. Mungkin sekarang sudah malam. Karena aku juga merasa sangat lelah. Aku mencari tempat agar bisa menidurkan bayi ini. Aku menemukan sebuah pohon yang cukup rindang.
Aku mengumpulkan daun-daun kering sebagai alas tidur kami, dan menidurkan bayi itu disana. Ada beberapa anak kecil yang melempari kami dengan kerikil, dan mengatai kami orang gila.
Tapi aku berdiri dan menatap mereka tajam-tajam karena berani mengganggu bayi itu. Mereka lalu berlari meninggalkan kami. Aku membelai bayi itu. Aku kasihan karena ia harus ikut kelelahan dalam perjalanan ini.
Aku tidak tahu berapa lama aku membelai bayi itu, karena tanpa sadar aku tertidur.
Aku bermimpi lagi. Kali ini kandunganku sudah besar. Aku merasa kesulitan untuk beraktivitas. Aku sulit berjalan, duduk, tidur, bahkan untuk buang air aku juga kesulitan. Tapi untunglah semua keluargaku mendukungku.
Mereka membantuku melewati semuanya, hingga aku merasa perutku mulai mulas. Kukatakan itu pada ibuku, dan ia segera menyuruh kakak-kakakku membawaku ke bidan terdekat.
Aku merasakan mulas itu berubah menjadi rasa sakit yang luar biasa. Aku ingin berteriak untuk mengurangi rasa sakitku, tapi itu justru membuatku merasa semakin sakit. Ayahku menatapku cemas.
Ia terus menemaniku dan menggenggam tanganku. Ia meyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi aku menangis. Aku takut, dan aku merasa sangat sakit di bagian bawah perutku.
Aku lalu meminta maaf pada ibuku, kakak-kakakku, adikku, dan ayahku. Aku merasa sangat bersalah karena mereka harus ikut menanggung malu karena kehamilanku. Aku juga merasa sangat malu karena tidak bisa membahagiakan mereka sebagai anak perempuan tertua di keluargaku.
Tapi ayahku memarahiku.
“Kamu ngomong apa sih? Kamu nggak nyerah sama anak kamu, kamu siap ambil resiko karena kesalahan kamu, itu udah bikin Ayah bangga. Nggak semua perempuan bisa sekuat kamu. Jadi, jangan nangis.
Anak kesayangan Ayah nggak boleh nangis!” kata Ayah sambil membelai rambutku, sama seperti saat aku sedang sakit tifus ketika SD. Aku menangis lebih keras, dan aku merasa perut bawahku bertambah sakit.
Bidan yang menanganiku segera memberikan instruksi agar aku membuka kakiku lebar-lebar, dan memberikan aba-aba untuk mendorong bayiku. Aku mencoba berkali-kali, dan aku nyaris tidak sanggup lagi. Tapi ayahku menyemangatiku.
Ia menggenggam tanganku, dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Aku mencoba mendorong beberapa kali, dan akhirnya tangisan bayi itu terdengar di seluruh ruangan. Aku menghembuskan nafas lega, dan lemas.
Aku lelah, tapi rasa sakitku terbayar sudah. Aku menggendong bayiku dengan lembut, dan mengamati wajahnya. Aku tersentak. Ini adalah bayi yang sama, yang kutemukan di tempat gelap itu. Aku menangis keras, dan menciuminya.
Aku terbangun dari mimpiku ketika bayi itu tiba-tiba menangis. Aku melihatnya dengan seksama, dan aku memeluknya erat. Ini anakku. Ini anakku. Aku menangis terharu dan aku menggendongnya pergi dari tempat itu. Aku tidak ingin siapapun melukainya. Ini anakku.
Darah dagingku. Aku berjalan setengah berlari menyusuri jalan itu, hingga kemudian aku menemukan ujungnya.
Ini adalah rumahku. Rumahku sendiri. Aku melihat ayah dan ibuku duduk di teras sambil menungguku. Aku melihat kedua kakakku mencuci sepeda motor mereka di halaman, dan aku melihat adikku sedang bermain ponsel di dekat ibuku. Aku menangis terharu.
Saat menyadari kepulanganku, mereka bergegas menyambutku. Aku menyerahkan bayi yang kugendong, dan mereka menerimanya dengan suka cita. Aku lelah, lalu pandanganku berubah gelap.
Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur. Tapi saat aku tersadar, aku berada di ruangan yang sangat terang, dan bernuansa serba putih. Aku melihat ayahku tertidur di sofa, ibuku di tertidur di kursi sambil menggenggam tanganku, dan kedua kakakku nampak tidur di lantai.
Aku masih berada di rumah sakit. Lalu tiba-tiba pintu terbuka. Adikku baru pulang dari sekolah. “Kakak udah sadar!” kata adikku membangunkan semua yang ada di ruangan itu. Mereka lalu terlonjak dan mengelilingiku. Ibu menangis terharu menatapku.
Rupanya aku pendarahan hebat saat melahirkan, dan aku koma selama tiga hari. Aku mengatakan ingin melihat bayiku, dan mereka mengambilkannya dari ruang inkubasi. Aku menangis terharu. Anakku, bayiku.
Ia sama seperti yang kulihat di mimpiku. Ia tidak terlalu mancung, bermata lebar dan berambut hitam.
Aku bersyukur tidak benar-benar terbangun di tempat gelap itu. Aku terbangun di tempat yang sangat hangat, tempat yang akan menjadi tempatku kembali, sejauh apapun aku tersesat. Rumah.

3 comments:

  1. Bagus banget yaTuhannn merinding bacanya:') suka!!!!:')����������

    ReplyDelete
  2. Parah parah ini bagus banget :') bacanya sambil nangis :'+

    ReplyDelete
  3. Aku bacanya sampai nangis, beneran ����

    ReplyDelete